Senin, 29 Juni 2009
akhir sejarah cinta
(M.Anis Matta, Lc)
Suatu saat dalam sejarah cinta
kita Kita tidur saling memunggungi
Tapi jiwa berpeluk-peluk
Senyum mendekap senyum
Suatu saat dalam sejarah cinta
kita Raga tak lagi saling membutuhkan
Hanya Jiwa Kita sudah lekat menyatu
Rindu mengelus rindu
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
kita Mengenang dan hanya itu Yang kita punya
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir
Disaat tak ada akhir
Yaaa… Teruslah merayakan cinta
hingga sejarah cinta kita,
dimana cinta kan berakhir disaat tak ada akhir.
Baarakallahu laka, wa Baarakallahu ‘alaika wa Jama’a bainakumaa fii khaiir…
semoga sakinah mawaddah warahmah..amien
Suatu saat dalam sejarah cinta
kita Kita tidur saling memunggungi
Tapi jiwa berpeluk-peluk
Senyum mendekap senyum
Suatu saat dalam sejarah cinta
kita Raga tak lagi saling membutuhkan
Hanya Jiwa Kita sudah lekat menyatu
Rindu mengelus rindu
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
kita Mengenang dan hanya itu Yang kita punya
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir
Disaat tak ada akhir
Yaaa… Teruslah merayakan cinta
hingga sejarah cinta kita,
dimana cinta kan berakhir disaat tak ada akhir.
Baarakallahu laka, wa Baarakallahu ‘alaika wa Jama’a bainakumaa fii khaiir…
semoga sakinah mawaddah warahmah..amien
cinta diatas cinta
CINTA di ATAS CINTA
M Anis Matta Lc.
Sumber : Tarbawi 55/4/Muharram 1424H
Perempuan oh perempuan! Pengalaman bathin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!
Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.
Tapi, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri.
Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil;
walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu- biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai.
Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar.
Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam
M Anis Matta Lc.
Sumber : Tarbawi 55/4/Muharram 1424H
Perempuan oh perempuan! Pengalaman bathin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!
Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.
Tapi, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri.
Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil;
walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu- biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai.
Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar.
Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam
tragedi cinta
Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?
Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.
Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.
Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.
Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.
Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.
Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!
Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri! Serial Cinta Tarbawi, Anis Matta
Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.
Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.
Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.
Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.
Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.
Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!
Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri! Serial Cinta Tarbawi, Anis Matta
Selasa, 23 Juni 2009
puisi anis matta "keluarlah saudaraku"
Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi
Porak lagi negeri ini
Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu
Sudah berbaris-baris memanggil-manggil
Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari kenyamanan mihrabmu
Dari kekhusu’an i’tikafmu
Dari keakraban sahabat-sahabatmu
Keluarlah, keluarlah saudaraku
Dari keheningan masjidmu
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan
Ke pasar-pasar ke majelis dewan yang terhormat
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan
Keluarlah-keluarlah saudaraku
Dari nikmat kesendirianmu
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini
Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yang tersisa
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih
Di tengah badai gurun kehidupan
Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah kan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari
(Puisi karya M. Anis Matta, Hidayatullah_edisi Juli 2003)
Porak lagi negeri ini
Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu
Sudah berbaris-baris memanggil-manggil
Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari kenyamanan mihrabmu
Dari kekhusu’an i’tikafmu
Dari keakraban sahabat-sahabatmu
Keluarlah, keluarlah saudaraku
Dari keheningan masjidmu
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan
Ke pasar-pasar ke majelis dewan yang terhormat
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan
Keluarlah-keluarlah saudaraku
Dari nikmat kesendirianmu
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini
Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yang tersisa
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih
Di tengah badai gurun kehidupan
Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah kan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari
(Puisi karya M. Anis Matta, Hidayatullah_edisi Juli 2003)
Jumat, 19 Juni 2009
Benturan kesadaran 2
Kawan, kembali pada topic yang menurutku sangat menarik, mudah mudahan kawan juga begitu. Bahwa ada banyak pertanyaan tentang bagaimana kita bangkit dari benturan yang telah berhasil-walau sedikit- mengusik kesadaran jiwa untuk berubah. Ternyata kawan, sebagaimana semua teori kebangkitan maka jawabannya adalah langkah untuk menjelma menjadi manusia dengan tekad yang membara. Dan disinilah biasanya perbedaan antara pemimpi dan penghayal. Seorang pemimpi adalah seorang yang melihat postur mimpinya begitu dekat dan begitu nyata, dan inilah energinya. Akan tetapi sebaliknya seorang penghayal melihat postur “kesadarannya” adalah sebuah penghias saja tidak lebih. Sebab itu, saya setuju bahwa pada tahap inilah banyak manusia tidak mampu untuk melanjutkan kesadaranya untuk menjadi tindakan nyata.Dan inilah pekerjaan besar kita.
Kawan, sadar atau tidak sadar bahwa setiap saat dalam hidup kita ini, ada banyak tanda tanda zaman yang sebenarnya bisa memberikan signal kesadaran bagi kita. Mulai dari yang kecil sampe yang besar. Dan kondisi itu kadang memang direkayasa, tetapi lebih banyak yang tidak direkayasa. Dan cerita kawan kita (benturan kesadaran 1) tentang kesadarannya yang muncul karena “dipaksa” (maaf) oleh kenyataan bahwa di adalah saudara tertua dari adik adik yang lagi remaja, adalah salah satu contohnya. Contoh yang lain, saya masih mengingat ketika masih kuliah, seorang teman tiba-tiba mengatakan kepadaku, “saya mau taubat”, “saya mau taubat”….berulang ulang dia mengatakan itu. ternyata setelah diselidiki, kawan saya yang satu itu baru saja melihat sebuah kecelakaan maut. Dia berjanji untuk tidak balapan lagi. Saya bayangkan itu baru melihat sesuatu yang menimpa diri orang lain, bagaimana klo hal itu menimpa diri kita sendiri, dan kita Alhamdulillah, masih diberikn kesemptan untuk mengatakan, “saya mau taubat”…..
Jadi kawan, ada terlalu banyak, disekitar kita, peristiwa atau keadaan tertentu yang sebenarnya adalah “utusan” yang datang kepada kita untuk “membuka” matahati agar menjadi sadar akan sesuatu. Dan biasanya, yang mempu menerjemahkan itu adalah tergantung amat pada kepekaan antena kita. Walau dalam tema yang berbeda mesti ada berhubungan, penting untuk saya sampaikan dalam tulisn ini, bahwa salah satu cara untuk meningkatkan kepekaan itu, menurut para ahlinya, adalah dengan banyak banyak merenung. Menurut mereka, merenung membuat kita memiliki waktu untuk bertafakkur akan semua kejadian yang menimpa kita baik atau tidaknya. Dan kegiatan merenunglah yang menentukan kualitas dari kesadaran untuk dapat melangkah ke posisi selanjutnya yaitu bermimpi.
Kenyataan klasiknya adalah karena kita amat sangat jarang merenungi keseharian kita atau lingkungan kita, saya dan mungkin juga engkau kawan, lebih banyak membiarkan “tanda” itu berlalu dengan sendirinya, sehingga ibarat bisnismen, kita kebanyakan kehilangan peluang untuk minimal mengikuti tender proyek karena tidak peka terhadap informasi yang berseliwerang. Dan kegiatan merenung ini, bagus juga untuk kita diskusikan dengan pakarnya. Bagaimana membangun kebiasaan merenung yang baik (ada masukan kawan?, saya tunggu). Karena kawan, dari pembacaan saya dan mungkin juga engkau, terhadap fakta sejarah orang-orang atau kumpulan orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang terbiasa merenung, ya, merenung secara mendalam. Contoh, dalam sejarah hidupnya, Muhammad ketika kecil sampai menjelang kenabian dan bahkan terus sampai beliu wafat adalah sosok yang menjadikan kegiatan merenung menjadi catatan sejarahnya. Lihatlah bagaimana beliau menyengaja datang kegua hira hanya untuk mendapatkan ketenangan untuk proses perenungannya, dan hasilnya kawan, beliau yakin bahwa kekuasaan Allah diatas segalanya dan tidak boleh dibanding dengan apapun. Ingat, ini sebelum beliau menjadi nabi. Contoh yang lain, seorang pendiri organisasi pergerakan islam terbesar didunia sekarang, Imam Assyahid Hasan Al Banna, dengan ikhwanul musliminnya. Beliau membuat sebuah terori kebangkitan ummat yang berjenjang dan terarah dalam 7 langkah islamisasinya. Dan kawan, teori itu banyak diikuti bukan hanya oleh Ikhwanul Muslimin akan tetapi jua oleh organisasi pergerakan lainnya. Mungkin inilah alasan mengapa kemudian Ikhwanul muslimin menjadi gerakan terbesar di jagat ini. Dan semua itu lahir dari perenungan beliau.
Dan kawan, lahirnya konsep nusantara oleh Gajah Mada, adalah sebuah hasil dari perenungan mendalam beliau tentang batas territorial kekuasaan yang mampu menghimpun berbagai macam perbedaan, kalau tidak ada Gajah Mada mungkin indonesia tidak pernah ada. Dan kawan, guru saya dalam berpikir, yang saya idolakan, anis matta dalam sebuah pidatonya mengatakan bahwa untuk menyelamatkan bangsa ini diperlukan sebuah narasi besar, yang narasi itu bisa menghimpuun semua kekuatan bangsa, narasi yang lahir dari sebuah perenungan massal yang dilakukan secara mendalam. Dan kawan, kalau bang irwan (guru saya juga), menuliskan dalam blognya tentang mimpi Indonesia, maka menurutku mustahil mimpi itu bisa lahir secara massal bila kita sebagai penghuni Indonesia yang masih setia tidak membiasakan diri untuk merenung, untuk menghasilkan sebuah narasi besar dalam istilah anis matta, atau dalam istilah bang irwan, mimpi bersama.
Dan kawan, sebelum kembali pada tema utama, what the next after “kesadaran. Maka merenung adalah perkerjaan mendasar yang harus dibiasakan untuk dapat melahirkan sebuah kesadaran yang berkualitas. Sebuah kesadaran yang bukan hanya dibuat terperangah oleh kejadian tertentu sehingga membuat kita mengucapkan “saya ingin taubat”, akan tetapi kesadaran yang melahirkan sebuah movement, kesadaran yang menggerakkan. Dan kawan, harus saya akui, sayapun banyak melewatkan waktuku tanpa proses perenungan, mudah mudahan ini awal yang baik untuk memulai. Terima kasih kawan atas ceritanya padaku sore itu (benturan kesadaran 1)
Jadi kawan, menjawab pertanyaan what the next after “kesadaran”, maka tentu jawabnya adalah merencanakan untuk melebarkan efek kesadaran itu. Setelah kita melek akan sesuatu dan dalam perenungan kita dapati sebuah jawaban tentang msalah itu, bagaimana mengaplikasikannya dan seterusnya, maka itu semua harus segera dibunyikan, dan membunyikannya memerlukan sebuah perencanaan. Inilah sekali lagi saya sebut dalam istilah merencanakan untuk bertanggungjawab.
Kawan, kembali pada cerita kawan istimewaku itu dibagian pertama tulisan ini, bahwa untuk menjadi contoh untuk saudaranya adalah hasil dari sebuah kesadaran akan tanggungjawabnya, dan pekerjaan selanjutnya baginya adalah bagaimana agar kesadarannya itu berbuah baik bagi saudaranya. Dan disinilah letak pentingnya merencakan untuk bertanggungjawab itu, sekarang, tentu kita semua tidak mau tiba-tiba orang orang disekililig kita mengatakan bahwa mereka menjadi tidak baik karena meihat tindak tanduk kita, kita tentu tidak ingin anak anak kita menjalani hidup yang “negative” sebagaimana kita dulunya sebelum sadar akan tanggungjawab itu. kita tentu tidak ingin kelabakan untuk tiba-tiba memaksakan diri menjadi baik - karena umur kebaikan sperti ini biasanya tidak panjang - setalah ada benturan.
Jadi kawan, ternyata kesadaran itu, bisa kita perolah dari pengalaman hidup orang lain. Dan bertanggungjawab untuk keluarga adalah sesuatu yang pasti, bertanggungjawab untuk anak adalah hal pasti bagi seorang bapak atau ibu, bertanggungjawab terhadap anak buah adalah hal pasti bagi seorang pimpinan. Dan tahu engkau kawan, pasti kita menjalani hidup ini diberbagai macam tingkatannya, diri sendiri, keluarga, masyarakat atau bahkan Negara. Dan merencanakan untuk bertanggungjawab itu berarti mempersiapkan diri untuk menjadi tauladan dalam setiap fase hidup kita itu.
Kita harus tahu bagaimana menjadi orangtua yang baik sebalum kita menjalani hidup berumah tangga dan punya anak. Tidak mesti menunggu kakak tertua pergi keluar kota supaya kita melatih diri untuk mejadi contoh. Bahkan ada sebuah ajaran yang saya dapatkan entah dari mana sumbernya, saya lupa. Ajaran itu berbunyi ”didiklah anakmu semenjak engkau remaja”, jauh sebelum kita menikah dan punya anak. Janganlah menjadi sosok ayah atau ibu dalam cerita ustad das’ad latif (ustad beken di Makassar),dikisahkan seorang ayah dan seorang ibu sebelum makan malam bercakap dengan anakknya yang baru masuk TPA (tempat pengajian alquran), anakknya berkata, “ibu, baca doa dulu sebelum makan?”, ibunya hanya terdiam kebingungan lalu menjawab, “tanya ayahmu karena dia kepala rumah tangga, dan doa makan berjamaan itu diucapkan olek kepala rumah tangga”, akal bulus sang ibu, dalam hati sang ibu sambil melirik sang ayah, nah kenna kau sekarang..hehehe, ternyata sang ayah juga kebingungan tidak tahu jawabnya, tetapi tidak mau kalah dari ibu apalagi anaknya, dia bilang sama anakknya,” mari kita berdoa dalam hati kita, sesuai dengan kepercayaan kita massing masing” nah loooo……
(to be continue)
Kawan, sadar atau tidak sadar bahwa setiap saat dalam hidup kita ini, ada banyak tanda tanda zaman yang sebenarnya bisa memberikan signal kesadaran bagi kita. Mulai dari yang kecil sampe yang besar. Dan kondisi itu kadang memang direkayasa, tetapi lebih banyak yang tidak direkayasa. Dan cerita kawan kita (benturan kesadaran 1) tentang kesadarannya yang muncul karena “dipaksa” (maaf) oleh kenyataan bahwa di adalah saudara tertua dari adik adik yang lagi remaja, adalah salah satu contohnya. Contoh yang lain, saya masih mengingat ketika masih kuliah, seorang teman tiba-tiba mengatakan kepadaku, “saya mau taubat”, “saya mau taubat”….berulang ulang dia mengatakan itu. ternyata setelah diselidiki, kawan saya yang satu itu baru saja melihat sebuah kecelakaan maut. Dia berjanji untuk tidak balapan lagi. Saya bayangkan itu baru melihat sesuatu yang menimpa diri orang lain, bagaimana klo hal itu menimpa diri kita sendiri, dan kita Alhamdulillah, masih diberikn kesemptan untuk mengatakan, “saya mau taubat”…..
Jadi kawan, ada terlalu banyak, disekitar kita, peristiwa atau keadaan tertentu yang sebenarnya adalah “utusan” yang datang kepada kita untuk “membuka” matahati agar menjadi sadar akan sesuatu. Dan biasanya, yang mempu menerjemahkan itu adalah tergantung amat pada kepekaan antena kita. Walau dalam tema yang berbeda mesti ada berhubungan, penting untuk saya sampaikan dalam tulisn ini, bahwa salah satu cara untuk meningkatkan kepekaan itu, menurut para ahlinya, adalah dengan banyak banyak merenung. Menurut mereka, merenung membuat kita memiliki waktu untuk bertafakkur akan semua kejadian yang menimpa kita baik atau tidaknya. Dan kegiatan merenunglah yang menentukan kualitas dari kesadaran untuk dapat melangkah ke posisi selanjutnya yaitu bermimpi.
Kenyataan klasiknya adalah karena kita amat sangat jarang merenungi keseharian kita atau lingkungan kita, saya dan mungkin juga engkau kawan, lebih banyak membiarkan “tanda” itu berlalu dengan sendirinya, sehingga ibarat bisnismen, kita kebanyakan kehilangan peluang untuk minimal mengikuti tender proyek karena tidak peka terhadap informasi yang berseliwerang. Dan kegiatan merenung ini, bagus juga untuk kita diskusikan dengan pakarnya. Bagaimana membangun kebiasaan merenung yang baik (ada masukan kawan?, saya tunggu). Karena kawan, dari pembacaan saya dan mungkin juga engkau, terhadap fakta sejarah orang-orang atau kumpulan orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang terbiasa merenung, ya, merenung secara mendalam. Contoh, dalam sejarah hidupnya, Muhammad ketika kecil sampai menjelang kenabian dan bahkan terus sampai beliu wafat adalah sosok yang menjadikan kegiatan merenung menjadi catatan sejarahnya. Lihatlah bagaimana beliau menyengaja datang kegua hira hanya untuk mendapatkan ketenangan untuk proses perenungannya, dan hasilnya kawan, beliau yakin bahwa kekuasaan Allah diatas segalanya dan tidak boleh dibanding dengan apapun. Ingat, ini sebelum beliau menjadi nabi. Contoh yang lain, seorang pendiri organisasi pergerakan islam terbesar didunia sekarang, Imam Assyahid Hasan Al Banna, dengan ikhwanul musliminnya. Beliau membuat sebuah terori kebangkitan ummat yang berjenjang dan terarah dalam 7 langkah islamisasinya. Dan kawan, teori itu banyak diikuti bukan hanya oleh Ikhwanul Muslimin akan tetapi jua oleh organisasi pergerakan lainnya. Mungkin inilah alasan mengapa kemudian Ikhwanul muslimin menjadi gerakan terbesar di jagat ini. Dan semua itu lahir dari perenungan beliau.
Dan kawan, lahirnya konsep nusantara oleh Gajah Mada, adalah sebuah hasil dari perenungan mendalam beliau tentang batas territorial kekuasaan yang mampu menghimpun berbagai macam perbedaan, kalau tidak ada Gajah Mada mungkin indonesia tidak pernah ada. Dan kawan, guru saya dalam berpikir, yang saya idolakan, anis matta dalam sebuah pidatonya mengatakan bahwa untuk menyelamatkan bangsa ini diperlukan sebuah narasi besar, yang narasi itu bisa menghimpuun semua kekuatan bangsa, narasi yang lahir dari sebuah perenungan massal yang dilakukan secara mendalam. Dan kawan, kalau bang irwan (guru saya juga), menuliskan dalam blognya tentang mimpi Indonesia, maka menurutku mustahil mimpi itu bisa lahir secara massal bila kita sebagai penghuni Indonesia yang masih setia tidak membiasakan diri untuk merenung, untuk menghasilkan sebuah narasi besar dalam istilah anis matta, atau dalam istilah bang irwan, mimpi bersama.
Dan kawan, sebelum kembali pada tema utama, what the next after “kesadaran. Maka merenung adalah perkerjaan mendasar yang harus dibiasakan untuk dapat melahirkan sebuah kesadaran yang berkualitas. Sebuah kesadaran yang bukan hanya dibuat terperangah oleh kejadian tertentu sehingga membuat kita mengucapkan “saya ingin taubat”, akan tetapi kesadaran yang melahirkan sebuah movement, kesadaran yang menggerakkan. Dan kawan, harus saya akui, sayapun banyak melewatkan waktuku tanpa proses perenungan, mudah mudahan ini awal yang baik untuk memulai. Terima kasih kawan atas ceritanya padaku sore itu (benturan kesadaran 1)
Jadi kawan, menjawab pertanyaan what the next after “kesadaran”, maka tentu jawabnya adalah merencanakan untuk melebarkan efek kesadaran itu. Setelah kita melek akan sesuatu dan dalam perenungan kita dapati sebuah jawaban tentang msalah itu, bagaimana mengaplikasikannya dan seterusnya, maka itu semua harus segera dibunyikan, dan membunyikannya memerlukan sebuah perencanaan. Inilah sekali lagi saya sebut dalam istilah merencanakan untuk bertanggungjawab.
Kawan, kembali pada cerita kawan istimewaku itu dibagian pertama tulisan ini, bahwa untuk menjadi contoh untuk saudaranya adalah hasil dari sebuah kesadaran akan tanggungjawabnya, dan pekerjaan selanjutnya baginya adalah bagaimana agar kesadarannya itu berbuah baik bagi saudaranya. Dan disinilah letak pentingnya merencakan untuk bertanggungjawab itu, sekarang, tentu kita semua tidak mau tiba-tiba orang orang disekililig kita mengatakan bahwa mereka menjadi tidak baik karena meihat tindak tanduk kita, kita tentu tidak ingin anak anak kita menjalani hidup yang “negative” sebagaimana kita dulunya sebelum sadar akan tanggungjawab itu. kita tentu tidak ingin kelabakan untuk tiba-tiba memaksakan diri menjadi baik - karena umur kebaikan sperti ini biasanya tidak panjang - setalah ada benturan.
Jadi kawan, ternyata kesadaran itu, bisa kita perolah dari pengalaman hidup orang lain. Dan bertanggungjawab untuk keluarga adalah sesuatu yang pasti, bertanggungjawab untuk anak adalah hal pasti bagi seorang bapak atau ibu, bertanggungjawab terhadap anak buah adalah hal pasti bagi seorang pimpinan. Dan tahu engkau kawan, pasti kita menjalani hidup ini diberbagai macam tingkatannya, diri sendiri, keluarga, masyarakat atau bahkan Negara. Dan merencanakan untuk bertanggungjawab itu berarti mempersiapkan diri untuk menjadi tauladan dalam setiap fase hidup kita itu.
Kita harus tahu bagaimana menjadi orangtua yang baik sebalum kita menjalani hidup berumah tangga dan punya anak. Tidak mesti menunggu kakak tertua pergi keluar kota supaya kita melatih diri untuk mejadi contoh. Bahkan ada sebuah ajaran yang saya dapatkan entah dari mana sumbernya, saya lupa. Ajaran itu berbunyi ”didiklah anakmu semenjak engkau remaja”, jauh sebelum kita menikah dan punya anak. Janganlah menjadi sosok ayah atau ibu dalam cerita ustad das’ad latif (ustad beken di Makassar),dikisahkan seorang ayah dan seorang ibu sebelum makan malam bercakap dengan anakknya yang baru masuk TPA (tempat pengajian alquran), anakknya berkata, “ibu, baca doa dulu sebelum makan?”, ibunya hanya terdiam kebingungan lalu menjawab, “tanya ayahmu karena dia kepala rumah tangga, dan doa makan berjamaan itu diucapkan olek kepala rumah tangga”, akal bulus sang ibu, dalam hati sang ibu sambil melirik sang ayah, nah kenna kau sekarang..hehehe, ternyata sang ayah juga kebingungan tidak tahu jawabnya, tetapi tidak mau kalah dari ibu apalagi anaknya, dia bilang sama anakknya,” mari kita berdoa dalam hati kita, sesuai dengan kepercayaan kita massing masing” nah loooo……
(to be continue)
Sabtu, 13 Juni 2009
cinta tanpa syarat
Malam tahun baru 1999 adalah awal malapetaka bagi saya. Saya mengalami kecelakaan hebat setelah motor yang saya kendarai bertabrakan dengan sebuah mobil taft. Sempat sadar setelah terjatuh, saya melihat darah berceceran di sekitar lokasi. Gagal mencoba berdiri, saya baru menyadari bahwa kaki kanan saya terluka cukup parah. Urat besar di bawah lutut saya putus.
Setelah dioperasi di Rumah Sakit Mekar Sari, Bekasi Timur, saya diharuskan istirahat total. Sejak saat itu saya harus menghadapi kenyataan pahit, kaki kanan saya pincang. Ya, saya cacat.
Hari-hari pada proses pemulihan kondisi terasa amat berat. Betapa tersiksanya ketika saya harus merangkak menuju kamar mandi untuk sekadar buang hajat. Dan sejak saat itu saya sadar bahwa karunia Allah atas kesehatan dan kesempurnaan pada tubuh kita begitu besar.
Dan orang yang rela menemani hari-hari berat itu dan merawat saya adalah ibu. Beliau membasuh darah yang kadang masih keluar dari kaki saya dan membasuh seluruh tubuh saya sebagai ganti mandi. Berbulan-bulan sakit itu hingga saya diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya. Kasih sayang beliau tak berkurang sedikit pun meski saya cacat.
Alkisah, ada seorang pemuda yang dikirim ke medan perang. Dia prajurit muda. Setelah sekian lama bertempur, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, pemuda itu menelepon kedua orang tuanya terlebih dahulu.
”Ibu, Ayah, aku sedang menuju pulang. Tapi, sebelum sampai, aku ingin menanyakan satu hal. Aku punya seorang teman yang ingin kubawa pulang bersamaku. Bolehkah?”
”Tentu. Kami sangat senang bertemu dengan temanmu itu,” jawab kedua orang tuanya.
“Tapi, ada satu hal yang harus Ibu dan Ayah ketahui. Temanku ini sedang terluka akibat perang. Dia kehilangan satu kaki dan satu tangannya. Dia tak tahu ke mana harus pulang. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” ujar sang pemuda.
“Kasihan sekali. Mungkin kita bisa mencarikan tempat untuk temanmu tersebut,” tutur kedua orang tua pemuda itu.
“Tidak. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” tegas si pemuda.
“Anakku, kamu tak tahu apa yang sedang kamu minta. Seorang yang cacat akan menjadi beban bagi kita. Kita punya kehidupan sendiri. Dan sesuatu seperti ini tidak bisa mencampuri kehidupan kita,” jawab ayah pemuda itu.
“Menurut Ayah, sebaiknya kamu pulang dan lupakan saja temanmu itu. Dia pasti menemukan cara sendiri untuk hidup,” lanjut sang ayah.
Prajurit muda itu terdiam sejenak. Lalu, dia menutup telepon.
Beberapa hari kemudian, ayah dan ibu prajurit muda tersebut mendapatkan kabar dari polisi bahwa ada seorang pemuda yang bunuh diri dengan cara melompat dari puncak gedung. Berdasar identitasnya, diketahui bahwa pemuda itu adalah anak lelaki mereka.
Dengan perasaan duka dan sedih, kedua orang tua itu datang ke tempat kejadian perkara untuk memastikan kabar itu. Ketika berada di dekat jenazah, kedua orang tua tersebut yakin bahwa jasad lelaki itu adalah putra mereka.
Namun, yang membuat mereka sangat terkejut adalah jenazah itu hanya memiliki satu tangan dan satu kaki.
***
Sering kali, tanpa kita sadari, kita kerap terpesona oleh penampilan luar seseorang. Ada seorang guru yang hanya suka terhadap murid yang pintar. Bahkan, ada seseorang yang hanya menghormati orang yang cantik, tampan, kaya, dan segala sesuatu yang bagus-bagus saja.
Berapa banyak kata cinta yang terlontar dan kita dengar dalam sehari? Kata cinta dapat dengan mudah kita jumpai di majalah, surat kabar, televisi, radio, atau ponsel. Kata cinta juga gampang dijumpai di rumah, tempat umum, rumah sakit, atau diari sekalipun.
Mudah saja seorang pria mengucapkan kata cinta kepada gadis yang cantik rupawan. Mudah saja seorang ibu mengucapkan cinta kepada anak yang lucu menggemaskan. Mudah saja seorang guru bilang cinta kepada murid yang rajin dan pintar.
Mudah saja seorang bos menuturkan cinta kepada anak buah yang produktif dan kinerjanya baik.
Namun, mudahkah kita mengucapkan cinta kepada seseorang yang tak secantik, serupawan, selucu, sepintar, dan serajin yang kita bayangkan? Apakah seorang pria akan tetap mengutarakan cinta apabila si gadis tak lagi cantik dan memesona? Apakah seorang guru tetap mengasihi jika muridnya malas dan membangkang?
Tanpa disadari, kita acapkali hanya mau mencintai dan hidup bersama orang yang sempurna di mata kita. Namun, kita tak senang hidup dengan orang yang membuat kita tidak nyaman.
Seperti kisah prajurit muda tadi, kedua orang tua itu mencintai dengan tidak tulus, harus dengan syarat. Mereka gagal dalam ujian keikhlasan.
Dan untuk seorang ibu yang rela merawat dan membesarkan hati saya ketika saya merasa down, hanyalah doa agar Allah senantiasa menjaga dan memudahkan segala urusannya ketika kami tidak lagi bersama saat ini.
prasetyo_pirates@yahoo.co.id
www.samuderaislam.blogspot.com
Setelah dioperasi di Rumah Sakit Mekar Sari, Bekasi Timur, saya diharuskan istirahat total. Sejak saat itu saya harus menghadapi kenyataan pahit, kaki kanan saya pincang. Ya, saya cacat.
Hari-hari pada proses pemulihan kondisi terasa amat berat. Betapa tersiksanya ketika saya harus merangkak menuju kamar mandi untuk sekadar buang hajat. Dan sejak saat itu saya sadar bahwa karunia Allah atas kesehatan dan kesempurnaan pada tubuh kita begitu besar.
Dan orang yang rela menemani hari-hari berat itu dan merawat saya adalah ibu. Beliau membasuh darah yang kadang masih keluar dari kaki saya dan membasuh seluruh tubuh saya sebagai ganti mandi. Berbulan-bulan sakit itu hingga saya diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya. Kasih sayang beliau tak berkurang sedikit pun meski saya cacat.
Alkisah, ada seorang pemuda yang dikirim ke medan perang. Dia prajurit muda. Setelah sekian lama bertempur, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, pemuda itu menelepon kedua orang tuanya terlebih dahulu.
”Ibu, Ayah, aku sedang menuju pulang. Tapi, sebelum sampai, aku ingin menanyakan satu hal. Aku punya seorang teman yang ingin kubawa pulang bersamaku. Bolehkah?”
”Tentu. Kami sangat senang bertemu dengan temanmu itu,” jawab kedua orang tuanya.
“Tapi, ada satu hal yang harus Ibu dan Ayah ketahui. Temanku ini sedang terluka akibat perang. Dia kehilangan satu kaki dan satu tangannya. Dia tak tahu ke mana harus pulang. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” ujar sang pemuda.
“Kasihan sekali. Mungkin kita bisa mencarikan tempat untuk temanmu tersebut,” tutur kedua orang tua pemuda itu.
“Tidak. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” tegas si pemuda.
“Anakku, kamu tak tahu apa yang sedang kamu minta. Seorang yang cacat akan menjadi beban bagi kita. Kita punya kehidupan sendiri. Dan sesuatu seperti ini tidak bisa mencampuri kehidupan kita,” jawab ayah pemuda itu.
“Menurut Ayah, sebaiknya kamu pulang dan lupakan saja temanmu itu. Dia pasti menemukan cara sendiri untuk hidup,” lanjut sang ayah.
Prajurit muda itu terdiam sejenak. Lalu, dia menutup telepon.
Beberapa hari kemudian, ayah dan ibu prajurit muda tersebut mendapatkan kabar dari polisi bahwa ada seorang pemuda yang bunuh diri dengan cara melompat dari puncak gedung. Berdasar identitasnya, diketahui bahwa pemuda itu adalah anak lelaki mereka.
Dengan perasaan duka dan sedih, kedua orang tua itu datang ke tempat kejadian perkara untuk memastikan kabar itu. Ketika berada di dekat jenazah, kedua orang tua tersebut yakin bahwa jasad lelaki itu adalah putra mereka.
Namun, yang membuat mereka sangat terkejut adalah jenazah itu hanya memiliki satu tangan dan satu kaki.
***
Sering kali, tanpa kita sadari, kita kerap terpesona oleh penampilan luar seseorang. Ada seorang guru yang hanya suka terhadap murid yang pintar. Bahkan, ada seseorang yang hanya menghormati orang yang cantik, tampan, kaya, dan segala sesuatu yang bagus-bagus saja.
Berapa banyak kata cinta yang terlontar dan kita dengar dalam sehari? Kata cinta dapat dengan mudah kita jumpai di majalah, surat kabar, televisi, radio, atau ponsel. Kata cinta juga gampang dijumpai di rumah, tempat umum, rumah sakit, atau diari sekalipun.
Mudah saja seorang pria mengucapkan kata cinta kepada gadis yang cantik rupawan. Mudah saja seorang ibu mengucapkan cinta kepada anak yang lucu menggemaskan. Mudah saja seorang guru bilang cinta kepada murid yang rajin dan pintar.
Mudah saja seorang bos menuturkan cinta kepada anak buah yang produktif dan kinerjanya baik.
Namun, mudahkah kita mengucapkan cinta kepada seseorang yang tak secantik, serupawan, selucu, sepintar, dan serajin yang kita bayangkan? Apakah seorang pria akan tetap mengutarakan cinta apabila si gadis tak lagi cantik dan memesona? Apakah seorang guru tetap mengasihi jika muridnya malas dan membangkang?
Tanpa disadari, kita acapkali hanya mau mencintai dan hidup bersama orang yang sempurna di mata kita. Namun, kita tak senang hidup dengan orang yang membuat kita tidak nyaman.
Seperti kisah prajurit muda tadi, kedua orang tua itu mencintai dengan tidak tulus, harus dengan syarat. Mereka gagal dalam ujian keikhlasan.
Dan untuk seorang ibu yang rela merawat dan membesarkan hati saya ketika saya merasa down, hanyalah doa agar Allah senantiasa menjaga dan memudahkan segala urusannya ketika kami tidak lagi bersama saat ini.
prasetyo_pirates@yahoo.co.id
www.samuderaislam.blogspot.com
Rabu, 10 Juni 2009
wisata untuk ibadah, ibadah yang berwisata
Setalah sholat magrrib, saya dan kawan istimewa saya berjalan beriringan keluar dari lapangan futsal tango Makassar. Sembari menuju ketempat parker motor, dia, kawan istimiwa itu bertanya kepadaku. Tanya “ kau tidak lagi me wajibkan dirimu sholat berjamaah dimesjid?. Saya menyimak pertanyaanya dengan baik, kemudia dengan mantap saya menjawab, “Alhamdulillah masih”, dengan suara pasti tanda kemenangan. Pikirku inilah setinggi jawaban tentang sholat berjamaah. Bayangkan 5 kali sehari semalam dilakukan dimesjid, luar biaasa kan. Akan tetapi, sedetik kemudian, kepercayaann diriku menjadi hilang, menguap, dan membuat diruku malu.
Ternyata kawan, dia, kawan istimewaku itu, dengan lugas mengatakan bahwa,” Alhamdulillah sejak pulang dari Jakarta, dia mewajibkan diriya untuk sholat 5 waktu dimesjid”, sampai disini seolah jawabanya sama aja denganku, akan tetapi lanjutannya itu yangmembuat diriku semaput. Heheheh. Dia melanjutkan jawabanya yang terhenti oleh suara hatiku, “sholat jamaah 5 waktu di mesjid yang berbeda setiap harinya”. Dueeeerrrrrrrrr…waawwwww, subhanallah….luar biaasaaa…
Kawan, sekali lagi saya dibuat takjub oleh kawan istimewaku ini. Jawabanya itu mebuat diriku begitu kecil dihadapannya. Bayangkan sholat 5 (supaya jelas saya tuliskan L I M A) di 5 mesjid yang berbeda beda setiap harinya. Luar biasa. Memang tidak ada sunnah yang mewajibkan untuk itu akan tetapi apa yang dilakukan oleh kawanku itu, adalah prestasi yang luar biasa. Dan tahukah engkau kawan, saya hanya bisa terdiam dan terus terdiam bila mengingat ingat percakapan saya waktu itu.
Kawan, engakau mungkin bertanya, sama dengan apa yang ada dibenakku waktu itu. Saya bertanya Tanya, energy apa yang dia miliki sehinga dia mampu melakuakannya. Kita kawan, saya dan engkau, jangangkan dimesjid berbeda, sholat berjamaah dimesjidpun kadang masih bolong atau bahkan ada diantara kita yang tidak melakukannya di mesjid, malu dehhh..dan inilah realita sekarang..
Dan kawan kita itu (klo boleh saya menyebutkan demikian) telah menunjukkan sebuah langkah besar dan cotoh yang istimewa bahwa sesungguhnya beginilah bila kita ada tekad yang kuat untuk menikmati ibadah kepada Allah, dan tidak menganggapnya sebagi beban. Wow, ibadah dinikmati?? Inikah yang dirasakan oleh rasulullah Muhammad SAW yang mengatakan kepada sahabatnya suatu ketika, “ kumandangkanlah azan, mari kita istirahat sejenak”.
Kawanku, sekali lagi entah apa alasan dia melakukannya, tetapi yang pasti bahwa dalam aktifitasnya itu ada kenikmatan yang dia rasakan. Klo boleh saya mengistilahkan ibadah yang berwisata, atau wisata dengan ibadah. Nikmat, tiak membosankan dan yang pasti memperluas jalinan silaturrahim.
Dan kawan, tentu engkau sama dengan saya, bukan hanya itu yang menjadikan saya dan engaku takjub dengan kebiaaan kawan istimewa itu. Akan tetapi saya dan juga mungkin engkau, kembali mengingat ingat akan semua amal ibadah yang telah saya dan engaku kawan lakukan. Saya dan juga pasti engaku kawan, bertanya, adakah diri ini sudah menikmati ibadah sebagaimana kenikmatan iabadah yang kwan istimewa itu rasakan. Bayangkan saking nikmatnya sampe2 dia membebani dirinya lebih dari sekedar kewajiban yang standar. Dan bila sudah begini kawan, sudikah engaku membantuku untuk mendoakan kawan istimewa itu agar selalu diberi keistiqomahan dan kemampuan untuk berda’wah dijalannya, sehingga semakin banyak orang yang dapat mengikuti jejaknya, mudah mudahan saya dan engkau kawan.
(bersambung)
Ternyata kawan, dia, kawan istimewaku itu, dengan lugas mengatakan bahwa,” Alhamdulillah sejak pulang dari Jakarta, dia mewajibkan diriya untuk sholat 5 waktu dimesjid”, sampai disini seolah jawabanya sama aja denganku, akan tetapi lanjutannya itu yangmembuat diriku semaput. Heheheh. Dia melanjutkan jawabanya yang terhenti oleh suara hatiku, “sholat jamaah 5 waktu di mesjid yang berbeda setiap harinya”. Dueeeerrrrrrrrr…waawwwww, subhanallah….luar biaasaaa…
Kawan, sekali lagi saya dibuat takjub oleh kawan istimewaku ini. Jawabanya itu mebuat diriku begitu kecil dihadapannya. Bayangkan sholat 5 (supaya jelas saya tuliskan L I M A) di 5 mesjid yang berbeda beda setiap harinya. Luar biasa. Memang tidak ada sunnah yang mewajibkan untuk itu akan tetapi apa yang dilakukan oleh kawanku itu, adalah prestasi yang luar biasa. Dan tahukah engkau kawan, saya hanya bisa terdiam dan terus terdiam bila mengingat ingat percakapan saya waktu itu.
Kawan, engakau mungkin bertanya, sama dengan apa yang ada dibenakku waktu itu. Saya bertanya Tanya, energy apa yang dia miliki sehinga dia mampu melakuakannya. Kita kawan, saya dan engkau, jangangkan dimesjid berbeda, sholat berjamaah dimesjidpun kadang masih bolong atau bahkan ada diantara kita yang tidak melakukannya di mesjid, malu dehhh..dan inilah realita sekarang..
Dan kawan kita itu (klo boleh saya menyebutkan demikian) telah menunjukkan sebuah langkah besar dan cotoh yang istimewa bahwa sesungguhnya beginilah bila kita ada tekad yang kuat untuk menikmati ibadah kepada Allah, dan tidak menganggapnya sebagi beban. Wow, ibadah dinikmati?? Inikah yang dirasakan oleh rasulullah Muhammad SAW yang mengatakan kepada sahabatnya suatu ketika, “ kumandangkanlah azan, mari kita istirahat sejenak”.
Kawanku, sekali lagi entah apa alasan dia melakukannya, tetapi yang pasti bahwa dalam aktifitasnya itu ada kenikmatan yang dia rasakan. Klo boleh saya mengistilahkan ibadah yang berwisata, atau wisata dengan ibadah. Nikmat, tiak membosankan dan yang pasti memperluas jalinan silaturrahim.
Dan kawan, tentu engkau sama dengan saya, bukan hanya itu yang menjadikan saya dan engaku takjub dengan kebiaaan kawan istimewa itu. Akan tetapi saya dan juga mungkin engkau, kembali mengingat ingat akan semua amal ibadah yang telah saya dan engaku kawan lakukan. Saya dan juga pasti engaku kawan, bertanya, adakah diri ini sudah menikmati ibadah sebagaimana kenikmatan iabadah yang kwan istimewa itu rasakan. Bayangkan saking nikmatnya sampe2 dia membebani dirinya lebih dari sekedar kewajiban yang standar. Dan bila sudah begini kawan, sudikah engaku membantuku untuk mendoakan kawan istimewa itu agar selalu diberi keistiqomahan dan kemampuan untuk berda’wah dijalannya, sehingga semakin banyak orang yang dapat mengikuti jejaknya, mudah mudahan saya dan engkau kawan.
(bersambung)
benturan kesadaran
Salah satu kebiasaan kami setelah bermain futsal adalah duduk sambil melepas lelah dengan candaan atau bahkan ada yang berbicara sedikit serius. Ada yang mengutarakan keinginannya untuk segera menikah (amin, semoga dimudahkan), ada juga bahkan membahas tender sebuah proyek struktur. Pokoknya, serunya bermain futsal selama dua jam itu ditutup dengan cerita cerita yang seru pula.
Biasanya saya terlibat dengan pembicaraan itu, kadang sumbang pikiran tapi lebih banyak sekedar sumbang suara. Atau bahkan kadang pula saya hanya mendengar dengan baik semua topik itu, bukan karena tidak tahu mesti ngomong apa, tetapi kadang karena takjub saya akan topic pembicaraan itu.
Seperti pada sabtu sore pecan pertama juni 2009. Saat itu saya bertanya kepada seorang kawan. “sekarang jadi penguasa dong dirumah, setelah kakak tertua keluar kota karena tugas”, sambil terssenyum saya kepadanya. Ternyata jawabnya sungguh sangat membuat saya terkesima, dia berkata sambil memgang rambutnya yang jambul “itu dulu, sekarang beda, jadi yang tertua dirumah jadinya harus memberi contoh, ada tanggungjawab kepada ade yang sudah pada mau kuliah”. Deeegg, jawaban yang saya tidak sangka sangka. Jawaban yang menhentak relung jiwaku, jawaban yang membuatku kembali teringat dengan jelas akan tanggung jawab.
Betul sekali kawan, bahwa hidup ini perguliran, ada saat kita adalah orang yang membutuhkan contoh dan pekerjaan ini tidak akan berhenti, karena kita adalah pembelajar seumur hidup dan karena kita yakini suatu hokum bahwa tidak ada manusia yang sempurna kecuali sang rasul akhir jaman, Muhammad SAW. Dan ada kalanya kita ini adalah contoh bagi lingkungan kita. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, bahwa tindakan kita pasti dilihat dan akan ditiru oleh lingkungan kita, kitapun adalah produk dari meniru lingkungan kita
Pertanyaan polosnya adalah, kita mau mencontohkan yang seperti apa?, kita mau saudara kita, ade’ sepupu kita melihat kita dan bertindak seperti apa dari cara mereka melihat kita? Sudahkah kita merasa menjadi contoh yang baik bagi mereka? Ataukah kita hanya menjadi bagian dari kelompok hidup gue y ague, loe y aloe alias loe-loe, gue gue.
Kawan, hidup ternyata tidak bisa berdiri sendiri, kita adalah produk dari kita dan apa yang ada disekitar kita dengan semua yang kita serap dan lakukan serta tularkan. Seperti apa kita sekarang adalah secara langsung seperti apa kita dengan lingkungan kita, inilah mungkin rahasia mengapa kita dianjurkan untuk berkawan dengan orang “shaleh”, agar hidup ini juga bisa berkemungkinan besar menjadi “shaleh”. Dan kerana kita juga adalah sesuatu untuk lingkungan kita, maka kita juga butuh untuk menularkan keshalehan itu kepada lingkungan kita, meminjam istilah anis matta, shaleh social.
Dan kawan, bersyukurlah kita bila itu telah menjadi sebuah gelombang kesadaran. Bersyukurlah kita kalau dalam hati kita terbersit sebuah galau untuk menjadi contoh baik bagi lingkungan kita. Dan bersyukurlah kita bila dulu kita berbeda dengan kita sekarang yang shaleh.
Dan kawan, apa yang dialami oleh kawan saya itu adalah sebuah kesadaran yang lahir dari sebuah realita yang terbentur oleh kegalauan dalam hati, galau akan kebaikan diri dan galau akan kebaikan saudaranya. Dan pertemuan keduanya inilah yang melahirkan tanggung jawab. Dan rasa tanggungjawab itulah yang akan melahirkan mimpi akan postur masa depan. Postur yang dalam istilah bang irwan (saudara sekaligus guru saya) adalah mimpi Indonesia.
Kawan, bila semua kita adalah insan yang galau akan keadaan lingkungan yang dalam istilah gaulnya kaco alias kacau, maka itu adalah awal dari rasa tanggungjawab. Dan tahukah engkau kawan, bila gelombang tanggungjawab ini mulai bermunculan, maka karang karang keterbelakangan yang tumbuh di bumi Indonesia pasti akan hancur. Percayalah
Biasanya saya terlibat dengan pembicaraan itu, kadang sumbang pikiran tapi lebih banyak sekedar sumbang suara. Atau bahkan kadang pula saya hanya mendengar dengan baik semua topik itu, bukan karena tidak tahu mesti ngomong apa, tetapi kadang karena takjub saya akan topic pembicaraan itu.
Seperti pada sabtu sore pecan pertama juni 2009. Saat itu saya bertanya kepada seorang kawan. “sekarang jadi penguasa dong dirumah, setelah kakak tertua keluar kota karena tugas”, sambil terssenyum saya kepadanya. Ternyata jawabnya sungguh sangat membuat saya terkesima, dia berkata sambil memgang rambutnya yang jambul “itu dulu, sekarang beda, jadi yang tertua dirumah jadinya harus memberi contoh, ada tanggungjawab kepada ade yang sudah pada mau kuliah”. Deeegg, jawaban yang saya tidak sangka sangka. Jawaban yang menhentak relung jiwaku, jawaban yang membuatku kembali teringat dengan jelas akan tanggung jawab.
Betul sekali kawan, bahwa hidup ini perguliran, ada saat kita adalah orang yang membutuhkan contoh dan pekerjaan ini tidak akan berhenti, karena kita adalah pembelajar seumur hidup dan karena kita yakini suatu hokum bahwa tidak ada manusia yang sempurna kecuali sang rasul akhir jaman, Muhammad SAW. Dan ada kalanya kita ini adalah contoh bagi lingkungan kita. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, bahwa tindakan kita pasti dilihat dan akan ditiru oleh lingkungan kita, kitapun adalah produk dari meniru lingkungan kita
Pertanyaan polosnya adalah, kita mau mencontohkan yang seperti apa?, kita mau saudara kita, ade’ sepupu kita melihat kita dan bertindak seperti apa dari cara mereka melihat kita? Sudahkah kita merasa menjadi contoh yang baik bagi mereka? Ataukah kita hanya menjadi bagian dari kelompok hidup gue y ague, loe y aloe alias loe-loe, gue gue.
Kawan, hidup ternyata tidak bisa berdiri sendiri, kita adalah produk dari kita dan apa yang ada disekitar kita dengan semua yang kita serap dan lakukan serta tularkan. Seperti apa kita sekarang adalah secara langsung seperti apa kita dengan lingkungan kita, inilah mungkin rahasia mengapa kita dianjurkan untuk berkawan dengan orang “shaleh”, agar hidup ini juga bisa berkemungkinan besar menjadi “shaleh”. Dan kerana kita juga adalah sesuatu untuk lingkungan kita, maka kita juga butuh untuk menularkan keshalehan itu kepada lingkungan kita, meminjam istilah anis matta, shaleh social.
Dan kawan, bersyukurlah kita bila itu telah menjadi sebuah gelombang kesadaran. Bersyukurlah kita kalau dalam hati kita terbersit sebuah galau untuk menjadi contoh baik bagi lingkungan kita. Dan bersyukurlah kita bila dulu kita berbeda dengan kita sekarang yang shaleh.
Dan kawan, apa yang dialami oleh kawan saya itu adalah sebuah kesadaran yang lahir dari sebuah realita yang terbentur oleh kegalauan dalam hati, galau akan kebaikan diri dan galau akan kebaikan saudaranya. Dan pertemuan keduanya inilah yang melahirkan tanggung jawab. Dan rasa tanggungjawab itulah yang akan melahirkan mimpi akan postur masa depan. Postur yang dalam istilah bang irwan (saudara sekaligus guru saya) adalah mimpi Indonesia.
Kawan, bila semua kita adalah insan yang galau akan keadaan lingkungan yang dalam istilah gaulnya kaco alias kacau, maka itu adalah awal dari rasa tanggungjawab. Dan tahukah engkau kawan, bila gelombang tanggungjawab ini mulai bermunculan, maka karang karang keterbelakangan yang tumbuh di bumi Indonesia pasti akan hancur. Percayalah
Selasa, 09 Juni 2009
istana indah itu, rumah indonesia
mencoba membangun istana indah yang berdindingkan kejujuran, beratapkan tanggung jawab, dihiasi dengan warna cinta. semakin indah karena motifnya adalah motif syurgawi.
istana yang dihuni oleh tulisan-tulisan yang meng-inspirasi jiwa. hingga selalu ada semangat, keberanian, ketangkasan, dan kecerdasan untuk mengabdi pada kebenaran.
istana yang kekuasannya meliputi hamparan mimpi-mimpi indah akan masa depan.
istana yang menunggu anda untuk menjadi penghuninya.
silahkan publish tulisan di http://istanatulisan.wordpress.com. sebab ini adalah istana kita, istana indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)