Rabu, 10 Juni 2009

wisata untuk ibadah, ibadah yang berwisata

Setalah sholat magrrib, saya dan kawan istimewa saya berjalan beriringan keluar dari lapangan futsal tango Makassar. Sembari menuju ketempat parker motor, dia, kawan istimiwa itu bertanya kepadaku. Tanya “ kau tidak lagi me wajibkan dirimu sholat berjamaah dimesjid?. Saya menyimak pertanyaanya dengan baik, kemudia dengan mantap saya menjawab, “Alhamdulillah masih”, dengan suara pasti tanda kemenangan. Pikirku inilah setinggi jawaban tentang sholat berjamaah. Bayangkan 5 kali sehari semalam dilakukan dimesjid, luar biaasa kan. Akan tetapi, sedetik kemudian, kepercayaann diriku menjadi hilang, menguap, dan membuat diruku malu.
Ternyata kawan, dia, kawan istimewaku itu, dengan lugas mengatakan bahwa,” Alhamdulillah sejak pulang dari Jakarta, dia mewajibkan diriya untuk sholat 5 waktu dimesjid”, sampai disini seolah jawabanya sama aja denganku, akan tetapi lanjutannya itu yangmembuat diriku semaput. Heheheh. Dia melanjutkan jawabanya yang terhenti oleh suara hatiku, “sholat jamaah 5 waktu di mesjid yang berbeda setiap harinya”. Dueeeerrrrrrrrr…waawwwww, subhanallah….luar biaasaaa…
Kawan, sekali lagi saya dibuat takjub oleh kawan istimewaku ini. Jawabanya itu mebuat diriku begitu kecil dihadapannya. Bayangkan sholat 5 (supaya jelas saya tuliskan L I M A) di 5 mesjid yang berbeda beda setiap harinya. Luar biasa. Memang tidak ada sunnah yang mewajibkan untuk itu akan tetapi apa yang dilakukan oleh kawanku itu, adalah prestasi yang luar biasa. Dan tahukah engkau kawan, saya hanya bisa terdiam dan terus terdiam bila mengingat ingat percakapan saya waktu itu.
Kawan, engakau mungkin bertanya, sama dengan apa yang ada dibenakku waktu itu. Saya bertanya Tanya, energy apa yang dia miliki sehinga dia mampu melakuakannya. Kita kawan, saya dan engkau, jangangkan dimesjid berbeda, sholat berjamaah dimesjidpun kadang masih bolong atau bahkan ada diantara kita yang tidak melakukannya di mesjid, malu dehhh..dan inilah realita sekarang..
Dan kawan kita itu (klo boleh saya menyebutkan demikian) telah menunjukkan sebuah langkah besar dan cotoh yang istimewa bahwa sesungguhnya beginilah bila kita ada tekad yang kuat untuk menikmati ibadah kepada Allah, dan tidak menganggapnya sebagi beban. Wow, ibadah dinikmati?? Inikah yang dirasakan oleh rasulullah Muhammad SAW yang mengatakan kepada sahabatnya suatu ketika, “ kumandangkanlah azan, mari kita istirahat sejenak”.
Kawanku, sekali lagi entah apa alasan dia melakukannya, tetapi yang pasti bahwa dalam aktifitasnya itu ada kenikmatan yang dia rasakan. Klo boleh saya mengistilahkan ibadah yang berwisata, atau wisata dengan ibadah. Nikmat, tiak membosankan dan yang pasti memperluas jalinan silaturrahim.
Dan kawan, tentu engkau sama dengan saya, bukan hanya itu yang menjadikan saya dan engaku takjub dengan kebiaaan kawan istimewa itu. Akan tetapi saya dan juga mungkin engkau, kembali mengingat ingat akan semua amal ibadah yang telah saya dan engaku kawan lakukan. Saya dan juga pasti engaku kawan, bertanya, adakah diri ini sudah menikmati ibadah sebagaimana kenikmatan iabadah yang kwan istimewa itu rasakan. Bayangkan saking nikmatnya sampe2 dia membebani dirinya lebih dari sekedar kewajiban yang standar. Dan bila sudah begini kawan, sudikah engaku membantuku untuk mendoakan kawan istimewa itu agar selalu diberi keistiqomahan dan kemampuan untuk berda’wah dijalannya, sehingga semakin banyak orang yang dapat mengikuti jejaknya, mudah mudahan saya dan engkau kawan.
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar