Salah satu kebiasaan kami setelah bermain futsal adalah duduk sambil melepas lelah dengan candaan atau bahkan ada yang berbicara sedikit serius. Ada yang mengutarakan keinginannya untuk segera menikah (amin, semoga dimudahkan), ada juga bahkan membahas tender sebuah proyek struktur. Pokoknya, serunya bermain futsal selama dua jam itu ditutup dengan cerita cerita yang seru pula.
Biasanya saya terlibat dengan pembicaraan itu, kadang sumbang pikiran tapi lebih banyak sekedar sumbang suara. Atau bahkan kadang pula saya hanya mendengar dengan baik semua topik itu, bukan karena tidak tahu mesti ngomong apa, tetapi kadang karena takjub saya akan topic pembicaraan itu.
Seperti pada sabtu sore pecan pertama juni 2009. Saat itu saya bertanya kepada seorang kawan. “sekarang jadi penguasa dong dirumah, setelah kakak tertua keluar kota karena tugas”, sambil terssenyum saya kepadanya. Ternyata jawabnya sungguh sangat membuat saya terkesima, dia berkata sambil memgang rambutnya yang jambul “itu dulu, sekarang beda, jadi yang tertua dirumah jadinya harus memberi contoh, ada tanggungjawab kepada ade yang sudah pada mau kuliah”. Deeegg, jawaban yang saya tidak sangka sangka. Jawaban yang menhentak relung jiwaku, jawaban yang membuatku kembali teringat dengan jelas akan tanggung jawab.
Betul sekali kawan, bahwa hidup ini perguliran, ada saat kita adalah orang yang membutuhkan contoh dan pekerjaan ini tidak akan berhenti, karena kita adalah pembelajar seumur hidup dan karena kita yakini suatu hokum bahwa tidak ada manusia yang sempurna kecuali sang rasul akhir jaman, Muhammad SAW. Dan ada kalanya kita ini adalah contoh bagi lingkungan kita. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, bahwa tindakan kita pasti dilihat dan akan ditiru oleh lingkungan kita, kitapun adalah produk dari meniru lingkungan kita
Pertanyaan polosnya adalah, kita mau mencontohkan yang seperti apa?, kita mau saudara kita, ade’ sepupu kita melihat kita dan bertindak seperti apa dari cara mereka melihat kita? Sudahkah kita merasa menjadi contoh yang baik bagi mereka? Ataukah kita hanya menjadi bagian dari kelompok hidup gue y ague, loe y aloe alias loe-loe, gue gue.
Kawan, hidup ternyata tidak bisa berdiri sendiri, kita adalah produk dari kita dan apa yang ada disekitar kita dengan semua yang kita serap dan lakukan serta tularkan. Seperti apa kita sekarang adalah secara langsung seperti apa kita dengan lingkungan kita, inilah mungkin rahasia mengapa kita dianjurkan untuk berkawan dengan orang “shaleh”, agar hidup ini juga bisa berkemungkinan besar menjadi “shaleh”. Dan kerana kita juga adalah sesuatu untuk lingkungan kita, maka kita juga butuh untuk menularkan keshalehan itu kepada lingkungan kita, meminjam istilah anis matta, shaleh social.
Dan kawan, bersyukurlah kita bila itu telah menjadi sebuah gelombang kesadaran. Bersyukurlah kita kalau dalam hati kita terbersit sebuah galau untuk menjadi contoh baik bagi lingkungan kita. Dan bersyukurlah kita bila dulu kita berbeda dengan kita sekarang yang shaleh.
Dan kawan, apa yang dialami oleh kawan saya itu adalah sebuah kesadaran yang lahir dari sebuah realita yang terbentur oleh kegalauan dalam hati, galau akan kebaikan diri dan galau akan kebaikan saudaranya. Dan pertemuan keduanya inilah yang melahirkan tanggung jawab. Dan rasa tanggungjawab itulah yang akan melahirkan mimpi akan postur masa depan. Postur yang dalam istilah bang irwan (saudara sekaligus guru saya) adalah mimpi Indonesia.
Kawan, bila semua kita adalah insan yang galau akan keadaan lingkungan yang dalam istilah gaulnya kaco alias kacau, maka itu adalah awal dari rasa tanggungjawab. Dan tahukah engkau kawan, bila gelombang tanggungjawab ini mulai bermunculan, maka karang karang keterbelakangan yang tumbuh di bumi Indonesia pasti akan hancur. Percayalah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar