Kawan, kembali pada topic yang menurutku sangat menarik, mudah mudahan kawan juga begitu. Bahwa ada banyak pertanyaan tentang bagaimana kita bangkit dari benturan yang telah berhasil-walau sedikit- mengusik kesadaran jiwa untuk berubah. Ternyata kawan, sebagaimana semua teori kebangkitan maka jawabannya adalah langkah untuk menjelma menjadi manusia dengan tekad yang membara. Dan disinilah biasanya perbedaan antara pemimpi dan penghayal. Seorang pemimpi adalah seorang yang melihat postur mimpinya begitu dekat dan begitu nyata, dan inilah energinya. Akan tetapi sebaliknya seorang penghayal melihat postur “kesadarannya” adalah sebuah penghias saja tidak lebih. Sebab itu, saya setuju bahwa pada tahap inilah banyak manusia tidak mampu untuk melanjutkan kesadaranya untuk menjadi tindakan nyata.Dan inilah pekerjaan besar kita.
Kawan, sadar atau tidak sadar bahwa setiap saat dalam hidup kita ini, ada banyak tanda tanda zaman yang sebenarnya bisa memberikan signal kesadaran bagi kita. Mulai dari yang kecil sampe yang besar. Dan kondisi itu kadang memang direkayasa, tetapi lebih banyak yang tidak direkayasa. Dan cerita kawan kita (benturan kesadaran 1) tentang kesadarannya yang muncul karena “dipaksa” (maaf) oleh kenyataan bahwa di adalah saudara tertua dari adik adik yang lagi remaja, adalah salah satu contohnya. Contoh yang lain, saya masih mengingat ketika masih kuliah, seorang teman tiba-tiba mengatakan kepadaku, “saya mau taubat”, “saya mau taubat”….berulang ulang dia mengatakan itu. ternyata setelah diselidiki, kawan saya yang satu itu baru saja melihat sebuah kecelakaan maut. Dia berjanji untuk tidak balapan lagi. Saya bayangkan itu baru melihat sesuatu yang menimpa diri orang lain, bagaimana klo hal itu menimpa diri kita sendiri, dan kita Alhamdulillah, masih diberikn kesemptan untuk mengatakan, “saya mau taubat”…..
Jadi kawan, ada terlalu banyak, disekitar kita, peristiwa atau keadaan tertentu yang sebenarnya adalah “utusan” yang datang kepada kita untuk “membuka” matahati agar menjadi sadar akan sesuatu. Dan biasanya, yang mempu menerjemahkan itu adalah tergantung amat pada kepekaan antena kita. Walau dalam tema yang berbeda mesti ada berhubungan, penting untuk saya sampaikan dalam tulisn ini, bahwa salah satu cara untuk meningkatkan kepekaan itu, menurut para ahlinya, adalah dengan banyak banyak merenung. Menurut mereka, merenung membuat kita memiliki waktu untuk bertafakkur akan semua kejadian yang menimpa kita baik atau tidaknya. Dan kegiatan merenunglah yang menentukan kualitas dari kesadaran untuk dapat melangkah ke posisi selanjutnya yaitu bermimpi.
Kenyataan klasiknya adalah karena kita amat sangat jarang merenungi keseharian kita atau lingkungan kita, saya dan mungkin juga engkau kawan, lebih banyak membiarkan “tanda” itu berlalu dengan sendirinya, sehingga ibarat bisnismen, kita kebanyakan kehilangan peluang untuk minimal mengikuti tender proyek karena tidak peka terhadap informasi yang berseliwerang. Dan kegiatan merenung ini, bagus juga untuk kita diskusikan dengan pakarnya. Bagaimana membangun kebiasaan merenung yang baik (ada masukan kawan?, saya tunggu). Karena kawan, dari pembacaan saya dan mungkin juga engkau, terhadap fakta sejarah orang-orang atau kumpulan orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang terbiasa merenung, ya, merenung secara mendalam. Contoh, dalam sejarah hidupnya, Muhammad ketika kecil sampai menjelang kenabian dan bahkan terus sampai beliu wafat adalah sosok yang menjadikan kegiatan merenung menjadi catatan sejarahnya. Lihatlah bagaimana beliau menyengaja datang kegua hira hanya untuk mendapatkan ketenangan untuk proses perenungannya, dan hasilnya kawan, beliau yakin bahwa kekuasaan Allah diatas segalanya dan tidak boleh dibanding dengan apapun. Ingat, ini sebelum beliau menjadi nabi. Contoh yang lain, seorang pendiri organisasi pergerakan islam terbesar didunia sekarang, Imam Assyahid Hasan Al Banna, dengan ikhwanul musliminnya. Beliau membuat sebuah terori kebangkitan ummat yang berjenjang dan terarah dalam 7 langkah islamisasinya. Dan kawan, teori itu banyak diikuti bukan hanya oleh Ikhwanul Muslimin akan tetapi jua oleh organisasi pergerakan lainnya. Mungkin inilah alasan mengapa kemudian Ikhwanul muslimin menjadi gerakan terbesar di jagat ini. Dan semua itu lahir dari perenungan beliau.
Dan kawan, lahirnya konsep nusantara oleh Gajah Mada, adalah sebuah hasil dari perenungan mendalam beliau tentang batas territorial kekuasaan yang mampu menghimpun berbagai macam perbedaan, kalau tidak ada Gajah Mada mungkin indonesia tidak pernah ada. Dan kawan, guru saya dalam berpikir, yang saya idolakan, anis matta dalam sebuah pidatonya mengatakan bahwa untuk menyelamatkan bangsa ini diperlukan sebuah narasi besar, yang narasi itu bisa menghimpuun semua kekuatan bangsa, narasi yang lahir dari sebuah perenungan massal yang dilakukan secara mendalam. Dan kawan, kalau bang irwan (guru saya juga), menuliskan dalam blognya tentang mimpi Indonesia, maka menurutku mustahil mimpi itu bisa lahir secara massal bila kita sebagai penghuni Indonesia yang masih setia tidak membiasakan diri untuk merenung, untuk menghasilkan sebuah narasi besar dalam istilah anis matta, atau dalam istilah bang irwan, mimpi bersama.
Dan kawan, sebelum kembali pada tema utama, what the next after “kesadaran. Maka merenung adalah perkerjaan mendasar yang harus dibiasakan untuk dapat melahirkan sebuah kesadaran yang berkualitas. Sebuah kesadaran yang bukan hanya dibuat terperangah oleh kejadian tertentu sehingga membuat kita mengucapkan “saya ingin taubat”, akan tetapi kesadaran yang melahirkan sebuah movement, kesadaran yang menggerakkan. Dan kawan, harus saya akui, sayapun banyak melewatkan waktuku tanpa proses perenungan, mudah mudahan ini awal yang baik untuk memulai. Terima kasih kawan atas ceritanya padaku sore itu (benturan kesadaran 1)
Jadi kawan, menjawab pertanyaan what the next after “kesadaran”, maka tentu jawabnya adalah merencanakan untuk melebarkan efek kesadaran itu. Setelah kita melek akan sesuatu dan dalam perenungan kita dapati sebuah jawaban tentang msalah itu, bagaimana mengaplikasikannya dan seterusnya, maka itu semua harus segera dibunyikan, dan membunyikannya memerlukan sebuah perencanaan. Inilah sekali lagi saya sebut dalam istilah merencanakan untuk bertanggungjawab.
Kawan, kembali pada cerita kawan istimewaku itu dibagian pertama tulisan ini, bahwa untuk menjadi contoh untuk saudaranya adalah hasil dari sebuah kesadaran akan tanggungjawabnya, dan pekerjaan selanjutnya baginya adalah bagaimana agar kesadarannya itu berbuah baik bagi saudaranya. Dan disinilah letak pentingnya merencakan untuk bertanggungjawab itu, sekarang, tentu kita semua tidak mau tiba-tiba orang orang disekililig kita mengatakan bahwa mereka menjadi tidak baik karena meihat tindak tanduk kita, kita tentu tidak ingin anak anak kita menjalani hidup yang “negative” sebagaimana kita dulunya sebelum sadar akan tanggungjawab itu. kita tentu tidak ingin kelabakan untuk tiba-tiba memaksakan diri menjadi baik - karena umur kebaikan sperti ini biasanya tidak panjang - setalah ada benturan.
Jadi kawan, ternyata kesadaran itu, bisa kita perolah dari pengalaman hidup orang lain. Dan bertanggungjawab untuk keluarga adalah sesuatu yang pasti, bertanggungjawab untuk anak adalah hal pasti bagi seorang bapak atau ibu, bertanggungjawab terhadap anak buah adalah hal pasti bagi seorang pimpinan. Dan tahu engkau kawan, pasti kita menjalani hidup ini diberbagai macam tingkatannya, diri sendiri, keluarga, masyarakat atau bahkan Negara. Dan merencanakan untuk bertanggungjawab itu berarti mempersiapkan diri untuk menjadi tauladan dalam setiap fase hidup kita itu.
Kita harus tahu bagaimana menjadi orangtua yang baik sebalum kita menjalani hidup berumah tangga dan punya anak. Tidak mesti menunggu kakak tertua pergi keluar kota supaya kita melatih diri untuk mejadi contoh. Bahkan ada sebuah ajaran yang saya dapatkan entah dari mana sumbernya, saya lupa. Ajaran itu berbunyi ”didiklah anakmu semenjak engkau remaja”, jauh sebelum kita menikah dan punya anak. Janganlah menjadi sosok ayah atau ibu dalam cerita ustad das’ad latif (ustad beken di Makassar),dikisahkan seorang ayah dan seorang ibu sebelum makan malam bercakap dengan anakknya yang baru masuk TPA (tempat pengajian alquran), anakknya berkata, “ibu, baca doa dulu sebelum makan?”, ibunya hanya terdiam kebingungan lalu menjawab, “tanya ayahmu karena dia kepala rumah tangga, dan doa makan berjamaan itu diucapkan olek kepala rumah tangga”, akal bulus sang ibu, dalam hati sang ibu sambil melirik sang ayah, nah kenna kau sekarang..hehehe, ternyata sang ayah juga kebingungan tidak tahu jawabnya, tetapi tidak mau kalah dari ibu apalagi anaknya, dia bilang sama anakknya,” mari kita berdoa dalam hati kita, sesuai dengan kepercayaan kita massing masing” nah loooo……
(to be continue)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar